PERCOBAAN VII
I.
JUDUL PRAKTIKUM
PENETAPAN
MASSA MOLAR BERDASARKAN PENURUNAN
TITIK BEKU
II.
HARI, TANGGAL
SELASA, 19 MARET 2014
III.
TUJUAN PERCOBAAN
1. Menetapkan
titik beku cairan
murni dan titik beku larutan dalam pelarut yang bersangkutan.
2. Menetapkan massa molar dan senyawa yang
tidak di ketahui berdasarkan penurunan titik beku.
IV.
PERTANYAAN PRA PRAKTEK
1.
Sebanyak 1,20 gram senyawa yang memiliki
rumus C8H8O dilarutkan dalam 15.0 ml sikloheksana C6H12(dengan
kerapatan 0.779 gram/ml). Hitunglah
molalitas larutan ini?
Jawab :
Diketahui : Massa
C8H8O = 1.20 gram
Mr C8H8O =
(ArC x 8) + (ArH x 8) + (ArO x 1)
= (12 x 8) + (1
x 8)+(16 x 1)
= 96 + 8 + 16
= 120 mol/gram
Volume C6H12 =15.0
ml
Kerapatan C6H12 =
0.779 gram/ml
Ditanya : Molalitas = …
Dijawab :
Massa pelarut(C6H12)
dapat dicari menggunakan rumus kerapatan;
Massa = rho x v
= 0,779 x 15
= 11,685 gram
Molalitas =
(massa/Mr) x (1000/massa pelarut)
= 0.01 x 85,5798
= 0,856 molal
2.
Hitunglah penurunan titik beku ∆Hf
larutan pada soal no 1 tetapan titik beku molal (kf)
untuk sikloheksana 20.0 Km-1?
Jawab :
Diketahui : m = 0,856 molal
kf =
20 Km-1
Ditanya : ∆Tf = …
Dijawab : ∆Tf = mx kf
= 0,856 x 20
= 17,120
3.
Asam asetat, CH3COOH terurai
dalam air menjadi H+ dan . larutan tersebut diberi label 0.1 m CH3COOH
yang mempunyai titik beku hasil pengukuran
-0.190
0C hitunglah persentase pengukuran CH3COOH?
Jawab :
Diketahui : Mr
CH3COOH = (ArC x 2)+(ArH x
4)+(ArO x 2)
= (12 x 2)+(1 x 4)+(16 x 2)
= 24 + 4 + 32
=60 gram/mol
Konsentrasi
kemolalan = 0.1 m
Tf =
-0,19 0C
Ditanya :Presentase pengukuran = …
Dijawab : ∆Tf =
0 - Tf
= 0 – (-0,19)
= 0,19
Kf =
1,86
∆Tf =
m x kf x i
i = ∆Tf / mkf
= 1,0215
I = 1 +(n-1)ά
ά = (i - 1) / (n - 1)
=0,0215
%
ά =0,0215
x 100%
= 2.15%
V.
LANDASAN TEORI
Peralihan
wujud suatu zat di tentukan oleh suhu dan tekanan conohnya air pada tekanan
1atm mempunyai titik didih 100 0C dan titik beku 0 0C. jika air mengandung zat terlarut
yang sukar menguap , maka titik didihnya akan lebih besar dari 100 0C dan titik bekunya lebih kecil
dari 0 0C. perbedaan itu di sebut kenaikan titik didih(∆Tb) dan dapat
menurutkan titik beku(∆Tf). Kejadian tersebut dapat di terangkan menggunakan bantuan diafragma fase air, kita ingat bahwa
suatu cairan akan mendidih bila tekanan berasal dari tekanan luar, yaitu 1 atm.
Akan tetapi jika ada zat terlarut, maka tekanan uapnya turun sebesar ∆p atau
cc0. Akibatnya untuk mendidih diperlukan suhu lebih yaitu sampai titik D.
perbedaan suhu itu, sebesar CD. Disebut kenaikan titik didih (∆Tb).
Penurunan
tekanan uap larutan tidak hanya pada suato 100 0C, tetapi juga pada
suhu yang lebih rendah sampai ketitik tripel. Hal itu menyebabkan garis kesetimbangan cair-gas CO bergeser manjadi DO1. Penggeseran itu menyebabkan titik tripel
pindah O ke O1. Sejalan dengan itu, garis kesetimbangan padat-cair (BO), juga bergeser ke kiri yaitu
ke B1O1. Hal ini mempunyai pengaruh pada titik beku larutan yaitu lebih rendahan
dari titik beku air murni. Perbedaan itu di sebabkan penurunan titik beku (∆Tf)(Syukri.1999:271).
Apabila suatu zat
dilarutkan dengan zat pelarut, maka sifat larutan itu dibedakan dari sifat
pelarut murni. Contohnya , larutan gula yang berbeda sifat dengan air nmurni
biasa. Sifat-sifat larutan yang ada seperti rasa, warna ph dan kekentalan
tergantung pada jenis dan konsentrasi
zat yang terlarut. Pengaruh jenis zaat yang terlarut kecil sekali sejauh
zat yang terlarut itu tergolong non
elektrolit dan tidak mengandung uap ,
sedangkan sifat tidak tergantung pada jenis zat yang terlarut tetapi hanya pada
konsentrasi partikelnya disebut dengan
sifat sifat koligatif suatu larutan
(Susanto.2007:128).
Larutan
akan terjadi apabila terjadinya kesetimbangan antara pelarut dengan zat yang
terlarut . pelarut merupakan zat yang mendiskripsikan zat tersebut dan mempunyai masa molekul
relative lebih besar dari zat lain/ zat yang di campurkan. Zat terlarut
merupakan zat yang terdispersi (tersebut secara merata di dalam pelarut).
Adapun yang termasuk kedalam sifat-sifat koligatif suatu larutan adalah
penurunan titik beku (∆Tf), kenaikan titik didi(∆Tb), penurunan titik uap(∆p)
dan tekanan osmotic(n = m x RT).
Sifat
koligatif larutan adalah sifat fisis
larutan yang hanya tergantung pada jumlah partikel zat terbentuk dan
tidak tergantung dari jenis zat tersebut (Purba.200:331).
Titik beku larutan adalah suhu pada saat mulai
terbentuk padataan (membeku) selisih antara titik beku dengan titik beku
larutan disebut penurunan titik beku (∆ Tf).
∆Tf
= titik beku pelarut – titik beku larutan.
Rumus penurunan titik beku:
∆Tf = Kf . m
=
Kf . gram/Mr . 1000/kg(pelarut)
Keterangan :
∆Tf =
penurunan titik beku larutan dalam 0C
Kf =
tetapan penurunan titik beku molal dalam 0C/m
M =
molalitas larutan dalam mol/kg(pelarut)
g =
masssa zat terlarut dalam satuan gram
p = massa
pelarut dalam gram (sitorus,dkk.2004:14).
Titik beku larutan
lebih rendah dari pada titik beku pelarut murni larutan gula misalnya, membeku
di bawah suhu 0 0C. selisih antara titik beku larutan dengan titik
beku pelarut disebut penurunan titik beku larutan (Tf).
Penurunan titik beku
larutan ini juga sebanding dengan konsentrasi yang terlarut. Dan hubungan ini
dapat dinyatakan dengan rumus:
∆Tf =
m . Kf
Seperti halnya kenaikan tititk didih, maka penurunan
titik beku larutan ini juga dapat
dipakai untuk menentukan berat molekul zat
yang dilarutkan, yaitu ;
∆Tf = Kf . wb/Mb .
1000/wa
Jadi, mb = Kf . wb . 1000/∆ Tf . wa (sastrawijaya.1994:84).
Akibat dari penurunan uap larutan ialah turunya
titik beku. Dengan mengukur besarnya ∆Tf, dapat di tentukan berat molekul dari
zat terlarut. Cara ini disebut krioskropis. Cara krioskopis lebih baik dari
pada cara ebulioskopis. Karena pada cara ebulioskopis zat zat kimia dapat
berubah pada titik didih zat pelarut
(sukardjo.1990:76).
Suatu cairan murni mendingin suhuu terus turun sampai cairan membeku suhu
akan tetap. Jika semua bahan telah membeku, suhu akan turun lagi jika anda
membuat plot suhu terhadap waktu pembekuan, maka titik beku adalah yang
ditunjukkan oleh garis datar pada grafik.
Larutan akan memperlihatkan prilaku pendinginan yang
berbeda dengan cairan murni. Suhu larutan akan turun lebih rendah tetapi belum
membeku, kemudian suhu turun lagi perlahan lahan sewaktu pembekuan berlangsung
berlangsung. “Lewat dingin” artinya suhu turun dibawah
titik beku lalu naik lagi (Epinur,dkk.2011:52-53).
Perubahan wujud zat ditentukan 0leh suhu dan
tekanan. Contohnya air pada tekanan 1 atm mempunyai titik didih 100 0C
dantitik beku 0 0C. jika air mengandung zat terlarut dan sukar yang
sukar menguap (missal gula), maka titik didihnya akan lebih besar dari 100 0C
dan titik bekunya lebih kecil dari 0 0C. perbedaan itu disebut
penurunan titik beku (∆Tf). Suatu cairan akan mendidih bila tekanan uapnya sama
dengan tekanan luar, yaitu 1 atm. Akan tetapi jika ada zat trlarut, maka
tekanan uapnya turun sebesar sigma p atau CC1. Akibatnya, untuk
mendidih diperlukan suhu lebih. (Syukri.1999:371),
Larutan
akan memperlihatkan pendinginan yang berbeda
dengancairan murni, temperatur larutan
akan turun lebih rendah tetapi larutan itu sendiri belum membeku. Ketika
larutan membeku yang membeku adalah
pelarutnya, contoh es yang terbentuk di permukaaan lainnya yang terdapat dibawahnya tidak akan
membeku. Larutan akan menjadi pekat dan titik bekunya akan makin rendah, jadi
suatu larutan itu tidak akan membeku pada suhu yang sama , suhu tergantung pada
tekanan uapnya (basgot.1994:228).
VI.
ALAT DAN BAHAN
a.
Alat
Ø
Tabung reaksi besar
Ø
Gugus sumbat dengan dua lubang
Ø
Thermometer
Ø
Statif dan klem
Ø
Kawat kasa
Ø
Batang pengaduk
Ø
Gelas piala
b.
Bahan
Ø
Es
Ø
Air
Ø
Garam
Ø
25 ml p-xilena
VII.
PROSEDUR KERJA
A. Penetapan
pelarut murni
25 ML P-XILENA
|
-
dimasukkan dalam tabung reaksi
-
disumbat dan dijepit seperti pada gambar
-
diaduk dengan kawat pengaduk
-
perhatikan suhu hingga mencapai 180C
-
catat perubahan suhu setiap 15 menit
sampai p-xilena
-
HASIL
|
B.
Penerapan massa molar senyawa yang tidak
diketahui
2-2.5 GRAM SENYAWA
|
-
ditimbang dengan ketelitian tinggi
-
dialihkan secara kualitatif ke dalam tabung sampai semua zat larut
-
ditetapkan titik beku larutan p-xilena
-
mencatat perubahan suhu setiap 15 menit
-
HASIL
|
VIII. DATA
PENGAMATAN
A.
Penetapan titik beku larutan murni
1.
Pembacaan buret akhir 14 ml
Pembacaan buret
awal 15
ml
Volume p-xilena
yang di gunakan 15 ml
Catatan: data diambil dari literature lain
2.
Dari hasil pengamatan yang kami lakukan
dapat kami peroleh sebagai berikut:
No
|
Waktu
(sekon)
|
Suhu
(0C)
|
1
|
15
|
10
|
2
|
30
|
0
|
3
|
45
|
-2
|
4
|
60
|
-3
|
5
|
75
|
-4
|
6
|
90
|
-5
|
7
|
105
|
-6
|
B. Penetapan
massa
molar senyawa yang tidak diketahui
1. Massa
tabung dan senyawa 22.1 gram
Massa tabung 18.1
gram
Massa senyawa 4
gram
2. Percobaan
B yang kami peroleh dari hasil pengamatan kami adalah:
No
|
Waktu (sekon)
|
Suhu (0C)
|
1
|
15
|
15
|
2
|
30
|
0
|
3
|
45
|
-3
|
4
|
60
|
-5
|
5
|
75
|
-6
|
IX.
PEMBAHASAN
A. Penetapan
titik beku pelarut murni
Pada percobaan penetapan titik beku larutan murni
kami tidak menentukan dengan menggunakan biuret. Pada kesempatan kali ini kami
(kelompok 4) tidak melakukan praktikum secara langsung namun
kami hanya menganalisis berdasarkan percobaan yang di lakukan oleh mahasiswa yang telah melakukan praktikum
sebelumnya, sehingga data yang kami dapat yaitu: volume p-xilena kami hanya
membutuhkan sebanyak 25 ml.
Sebelum
dilakukan percobaan, terlebih dahulu dilakukan penyiapan alat dan bahan.
Kemudian dirakit alat-alat berupa tabung reaksi disumbat dengan gabus dan
dibuat dua lubang pada gabus tersebut sebagai tempat kawat pengaduk dan
termometer. Setelah merakitkan semua alat kemudian siapkan gelas piala yang
telah diisi dengan pendingin, yaitu campuran air, es dan garam. Disini garam
berguna untuk memperlambat pencairan pada es. Karena garam merupakan media pengisi
ruang diantara es sehingga es tidak mudah mencair.
Selanjutnya
tabung reaksi dimasukkan p-xilena sebanyak 25 ml. tabung reaksi dijepit dengan
menggunakan penjepit dan dimasukkan kedalam gelas piala yang telah diisi dengan
campuran pendingin tadi. Suhu p-xilena diukur dengan menggunakan termometer dan
jika telah mencapai 18oc, suhu dicatat setiap 15 sekon sampai
p-xilena membeku.
Penetapan suhu yang kami dapatkan setelah membaca
suhu pada alat pengukur suhu(thermometer) berdasarkan perubahan waktu yaitu
dapat kami sajikan seperti di bawah ini:
1.
Setelah 5 sekon suhu yang kami dapat
adalah 10 oC
2.
Setelah 30 sekon suhu yang kami dapat
adalah 0 oC
3.
Setelah 45 sekon suhu yang kami dapat
adalah -2 oC
4.
Setelah 60 sekon suhu yang kami dapat
adalah -3 oC
5.
Setelah 75 sekon suhu yang kami dapat
adalah -4 oC
6.
Setelah 90 sekon suhu yang kami dapat
adalah -5 oC
7.
Setelah 105 sekon suhu yang kami dapat
adalah -6 oC
Diketahui masa
molar senyawa C6H4(CH3)2 adalah
106 gram/mol.
v Massa
= rho x volume
=0.816 gram/ml x 5 ml
= 4.08 gram
v ∆Tf = Kf x m
= Kf
x
= Kf x
= 1.86 x 0.0385 x 40
v ∆Tf =
Tf pelarut murni – Tf larutan
Tf larutan =
0
– 2,864oc
= - 2,864oc
Berdasarkan kurfa di atas dapat dilihat bahwa setelah thermometer suhu menunjukkan
suhu 18 0C p-xilena dengan cepat suhunya turun. Seperti yang telah
di gambarkan pada grafik pada 15 detik pertama suhunya mencapai 10 0C. dan kemudian suhunya turun hingga 30 detik
suhunya turun hingga mencapai 0 0C dan angka itu menunjukkan suhu
pembekuan air. Hingga suhu yang kami catat menggunakan thermometer suhunya
mencapai -6 0C pada detik ke 105.
B.
Penetapan masa molar senyawa yang tidak
diketahui
Untuk
meentukan massa molar senyawa yang tidak diketahui sebelumnya dengan
menambahkan 2 sambai 2,5 gram senyawa
kedalam tabung berisi p-xilena hingga
larut ke dalamnya. Setelah semua zat terlarut didalamnya maka kita akan
menentukan titik beku pada larutan p-xilena, setelah percobaan ini kami lakukan
ternyata kami dapat sajikan sebagai berikut:
No
|
Waktu(sekon)
|
Suhu (0C)
|
1
|
15
|
24
|
2
|
30
|
15
|
3
|
45
|
0
|
4
|
60
|
-3
|
5
|
75
|
-5
|
6
|
90
|
-6
|
Dari table di atas dapat kita mencari masa molar
dengan menggunakan rumus:
∆Tf = 15 0C - (-5 0C)
= 20 0C
∆Tf = Kf x m
∆Tf = Kf x
20 0C =
4.3
x
Mr = 57,33 gram/mol
Perhitunganya ini, didapatkan dengan menarik dan garis yaitu
pada suhu awal dan akhir. Yaitu 24 0c menjadi 15 0C yang
denganku selanjutnya pada suhu -10 0C menjadi -5 0C
Kurva hasil
Pengamatan
Berdasarkan kurva di atas dapat dilihat bahwa setelah thermometer suhu menunjukkan
suhu 18 0C p-xilena dengan cepat suhunya perlahan lahan turun.
Seperti yang telah di gambarkan pada grafik pada 15 detik pertama suhunya mencapai 24 0C, dan kemudian suhunya turun hingga
30 detik suhunya turun hingga mencapai 15 0C. Kemudian suhunya turun hingga 45 detik suhunya turun hingga menjadi 00C
dan angka itu menunjukkan suhu pembekuan air. Pada waktu ke 60 detik suhu yang tercatat -3oC,
waktu ke 75 detik suhu yang tercatat -5oC dan pada 90 detik suhu
yang tercatat -6oC.
X.
DISKUSI
Dan percobaan yang telah di lakukan titik beku larutan ditetapkan titik beku
larutan berubah. Pada percobaan kali ini dilakukan dua percobaan yaitu:
A. Penetapan
titik beku pelarut murni
Dari percobaan ini, yang awalnya percobaan dilakukan
adalah praktikan
hasil yang dilakukan adalah titik beku larutan berubah ubah di karenakan ketika suatu larutan
dibekukan
ketika sebagian
pelarut murni membeku maka zat terlarut
akan memasak
pelarut yang belum beku.
Dengan
dimiliki larutan makin pekat. Maka rendah titik bekunya. Jadi, proses pembekuan tidak terjadi
pada suhu total, tetapi
pad suhu yang semakin lama semakin rendah.
Penurunan titik beku tidak bergantung pada jumlah ion, tetapi pada
konsentrasi dan jumlah
partikel dalam larutan. Berdasarkan percobaan ini, titik beku pelarut
murnilebih tinggi dari pada titik beku larutan. Menurut literatur titik beku
p-xilena adalah -25oc, namun pada percobaan ini didapat -17,22oc,
dalam percobaan mungkin terjaadi kesalahan dalam menghitung data, karena data-
data yang diketahui belum lengkap. Kami juga mengambil data dari literatur yang
data percobaan yang dilakukan oleh praktikan. Semua ini dikarenakan kami belum berhasil
membekukan p-xilena karena waktu yang diberikan sangat singkat dan sangan lama
untuk membekukan p-xilena, oleh karena itu percobaan ini tidak dilakukan secara
total.
Berdasarkan
percobaan yang telah kami lakukan didapat data sebagai berikut yatu setelah
thermometer suhu menunjukkan suhu 18 0C p-xilena dengan cepat
suhunya turun. Seperti yang telah di gambarkan pada grafik pada 15 detik
pertama suhunya mencapai 10 0C.
dan kemudian suhunya turun hingga 30 detik suhunya turun hingga mencapai
0 0C dan angka itu menunjukkan suhu pembekuan air. Hingga suhu yang
kami catat menggunakan thermometer suhunya mencapai -6 0C pada detik
ke 105.
B. Penetapan
masa molar yang tidak diketahui
Dalam penentapan massa molar ini, kami hanya memahami
sedikit prosedur kerjanya. Namun percobaan ini tidak kami lakukan, kami hanya
mengambil dari data dan literatur.
Dari data dan literatur yang kami dapat diperoleh data
sebagai berikut yaitu setelah thermometer suhu menunjukkan
suhu 18 0C p-xilena dengan cepat suhunya perlahan lahan turun.
Seperti yang telah di gambarkan pada grafik pada 15 detik pertama suhunya mencapai 24 0C, dan kemudian suhunya turun hingga
30 detik suhunya turun hingga mencapai 15 0C. Kemudian suhunya turun hingga 45 detik suhunya turun hingga menjadi 00C
dan angka itu menunjukkan suhu pembekuan air. Pada waktu ke 60 detik suhu yang tercatat -3oC,
waktu ke 75 detik suhu yang tercatat -5oC dan pada 90 detik suhu
yang tercatat -6oC.
XI.
PERTANYAAN PASCA PRAKTEK
1.
Asam apa yang terjadi pada perhitungan
massa molar dan kemungkinan kesalahan terjadi
a.
Sejumlah kecil p-xilena menguap selama
praktikum
b.
Zat asing terhadap p-xilena
Jawab:
a.
volume akan berkurang sehingga masa
molarnya akan bertambah besar karena secara sistematis bila masa zat berurang
akan memprkecil mol nya dan akan secara nyata akan memperbesar massa molar
relative(Mr).
b.
massa zat tersebut berubah menjadi
larutan, dengan massa molar yang didapat akan lebih kecil
2. Diketahui 3.39 gram urea(H2HCONH2)
bila dilarutkan kedalam 98 gram pelarut,
titik beku pelarut lebih rendah
dari 7.8 0C hitunglah tetapan titik beku.
Jawab:
∆Tf = Kf x
7.8 = Kf x
7.8 =Kf x 0.0565 x 10.2041
Kf = 0.0739
0C/mol
3.
Sebanyak
88 gram zat dilarutkan dalam 393 ml benzena kemudian larutan tersebut membeku
pada -0.5 0C titik brku normal benzene 5.5 0C dan tetapan titik beku 5.12
0C/mol dengan ratapan benzene 0.874
gram/mol.
Jawab
:
Diketahui :
Tf larutan =
-0.5 0C
Tf pelarut = 5,5
0C
Kf larutan =
5.12 0C/mol
Ditanya :
massa relatif = …
Dijawab :
Maka ∆Tf =
Tf pelarut – Tf larutan
=
5.5 – (-0.5)
=
60C
Massa benzene =
kerapatan x volume
=0.819
gram/ml x 393 ml
=345.67
gram
∆Tf =
Kf x m
=Kf
x n . 1000/v
60C =5.12
x (88/Mr) x ( 1000/345,67)
Mr =217
gram/mol
4. Ketika 3.5 gran zat dalam 20 ml air
yang memiliki titik beku -1.25 0C, dan memiliki Kf air 186 0C/mol tentukan masa
molar zat tersebut.
Jawab
:
∆Tf = Kf x m
= Kf x n . 1000/v
1.26 =1.06
x (35/Mr) x (1000/20)
Mr =260 gram/ mol
XII.
KESIMPULAN
1. Titik
beku cairan murni dan larutan dapat ditentukan dari penurunan suhu zat, keadaan
stasioner menunjukkan titik beku yang dimaksud.
2. Menentukan
titik beku pelarut juga dapat ditentukan dengan persamaan:
∆Tf = Kf x m
∆Tf = Tf pelarut – Tf larutan
3. Penetapan
titik beku senyawa dapat di gunakan
untuk menetapkan massa molar dari suatu
senyawa.
4. Penurunan
titik didih dan kemolalan suatu larutan memenuhi hubungan sebagai berikut;
∆Td= Kd x m
∆Td = Td larutan - Td pelarut
XIII.
DAFTAR PUSTAKA
Basgot,
dkk. 1994. Kimia Universitas. Jakarta: Erlangga
Petruci.
1992. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga
Purba.2000.kimia
Dasar Jilid 1. Surakarta:
Erlangga
Susanto.2008.
Kimia Dasar. Jakarta:
Erlangga
Syukri,S.1999. kimia
Dasar 1. Bantung:
institute teknologi bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar